Latar Belakang

Rasulullah telah menegaskan tentang keesaan Allah dalam surat-surat yang diturunkan Allah. Namun, orang-orang musyrik tetap bersikeras dengan pendapatnya. Orang-orang musyrik itu mengeluarkan berbagai argumen untuk menguatkan pendapatnya.

B.   Rumusan Masalah

1. Mengapa Allah menurunkan surat Al-Anbiya’ ayat 21-23?

2. Apa dalil aqli tentang keesaan Allah yang terkandung dalam surat Al-Anbiya’ ayat 21-23 menurut kitab tafsir?

C.   Tujuan

1. Mengetahui tujuan Allah menurunkan surat Al-Anbiya’ ayat 21-23.

2. Mengetahui dalil aqli tentang keesaan Allah yang terkandung dalam surat Al-Anbiya’ ayat 21-23 menurut kitab “Tafsir Ibnu Katsir”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Tujuan Allah SWT menurunkan surat Al-Anbiya’ ayat 21-23.

Surat Al-Anbiya’ termasuk surat makiyah. Sehingga dapat digambarkan keadaan bangsa Arab pada waktu itu yang masih menyembah berhala dan menyekutukan Allah.

Mereka berpendapat bahwa tuhan itu ada lebih dari satu meskipun Allah telah berkali-kali menegaskan dalam Al Quran bahwa Allah itu satu. Sehingga, Allah menurunkan surat Al-Anbiya’ ayat 21-23 untuk mengajak mereka berpikir dengan dalil aqli yang terdapat dalam surat Al-Anbiya’ ayat 21-23.

B. Dalil aqli tentang Keesaan Allah yang terdapat dalam surat Al-Anbiya’ ayat 21-23 menurut kitab “Tafsir Ibnu Katsir”.

 

اَمِ اتّخذ واءالهة من الارض هم ينشرون(21) لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ(22) لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُونَ(23)

 

Artinya Apakah mereka: mengambil tuhan-tuhan dati bumi yang dapat menghidupkan?.  Sekiranya ada di langit dan di bumi itu tuhan-tuihan selain Allah SWT ,tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka maha suci yang mempunyai ‘Arsyi dari apa yang mereka sifatkan. Dia(Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuatnya.

 

[1]Pada ayat ke-21 dijelaskan bahwa Allah mengingkari orang yang menjadikan selain-Nya sebagai Ilah. Dia berfirman,”Apakah mereka mengambil ilah-ilah dari bumi, yang dapat menghidupkan?” yaitu apakah mereka menghidupkan yang mati dan menebarkan mereka di bumi? Mereka tidak mampu melakukan semua itu, maka bagaimana mungkin mereka menjadikanya sebagai tandingan bagi Allah serta menyembahnya bersama Dia.

Pada ayat yang ke-22 dijelaskan apabila ada tuhan selain Allah, maka masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk ciptaanya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain (Saling berperang). Sedangkan dalam potongan terakhir ayat ke-22 dijelaskan bahwa Allah itu dzat yang Mahasuci, Mahatinggi, dan Mahabersih dari apa yang diada-adakan dan di dustakan oleh mereka (Orang-orang kafir).

Kesimpulanya, tidak boleh ada tuhan lebih dari satu tuhan di alam semesta ini, apabila ada lebih dari satu tuhan di alam semesta maka binasalah semua yang ada di alam semesta karena tuhan-tuhan itu akan saling berperang karena mempertahankan pendapat masing-masing.

 [2]Surat Al-Anbiya’ ayat 22 juga bermunasabah dengan surat Al-Mu’minun ayat 91 yang berbunyi:

 

مااتخذ الله من ولد وما كان معه من اله اذا لذ هب كل اله بما خلق ولعلا على بعض سبحان الله عما يصفون(91)

Artinya : “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada ilaih (yang lain) beserta-Nya, kalau ada ilah beserta-Nya, masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakanya, dan sebagian  dari ilah-ilah itu mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.”(QS. Al-Mu’minun:91).

 Ayat ini juga bermaksud menjelaskan apabila ada tuhan selain Allah, maka masing-masing tuhan itu akan saling mengalahkan antara satu dengan yang lain.

[3]Selain bermunasabah dengan surat Al-Mu’minun, Surat Al-Anbiya’ ayat 22 juga mempunyai korelasi dengan Surat Az-Zumar ayat 29 yang   berbunyi:

 

ضرب الله مثلا رجلا بيه شركاء متشاكسون ورجلاسلما لرجل هل يستويان مثلا الحمد لله بل اكثرهم لا يعلمون(29)

Artinya: Allah mebuat perumpamaan, (yaitu) seorang lelaki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat dan saling berselisih (buruk perangai mereka) ,dengan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang saja.Adakah keduanya (budak-budak itu) sama halnya?Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui (Q.S.Az-Zumar[39]:29).

Ayat ini bermaksud menggambarkan bagaimana keadaan seseorang yang harus taat kepada sekian banyak orang yang memilikinya, tetapi pemilik-pemiliknya itu saling berselisih dan buruk perangainya. Alangkah bingung ia. Yang ini memerintahkan satu hal, belum lagi selesai datang yang lain mencegah atau memerintahkanya dengan perintah lain, yang ketiga pun demikian. Begitu seterusnya, Sehingga pada akhirnya budak itu hidup dalam kompleks kejiwaan yang tidak diketahui bagaimana cara menanggulanginya. Bandingkan kalau budak itu hanya punya satu pemilik, maka dia tidak akan kebingungan dengan perintah tuanya karena hanya satu perintah dalam satu waktu yang bisa keluar dari mulut tuanya.

[4]Pada ayat yang ke-23 dijelaskan bahwa Allah Yang Maha Memutuskan, tidak ada yang dapat menolak keputusanya. Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui berarti tidak ada seorangpun yang dapat menandingi kebijaksanaan, pengetahuan, keadilan, dan kelembutan Allah. Dengan demikian, Allah tidak akan ditanya tentang apa yang dilakukan Allah, karena Allah hanya melakukan kebaikan. Keburukan tidaklah pantas bagi Allah dan Allah-pun tidak melakukan keburukan. Maka Allah tidak ditanya mengenai sesuatu yang dikerjakan Allah. Adapun terhadap makhluk Allah SWT akan menanyai kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan.

C. Analisis Metodologi

[5]Dalam menafsirkan ayat Al Quran, Ibnu Katsir menggunakan metode Tahlili, yaitu Mufassir menguraikan arti kosa kata, arti global ayat, menghubungkan maksud ayat dengan ayat-ayat lain dan mencari munasabah (korelasi)-nya, membahas asbabunnuzul-nya, menyampaikan penafsiran dan bukti yang telah disampaikan Rasul, sahabat, tabi’un, dan ulama’-ulama’, serta materi-materi lain yang dianggap penting oleh mufassirnya. Latar belakang mufassir, baik pendidikan, keahlian, masa hidup, aliran dan madzhab yang dianut, maupun aspek-aspek sosio kultural lainya sangat mempengaruhi corak tafsir dan kecenderunganya.

D. Kandungan Surat Al-Anbiya’ Ayat 21-23

Pesan yang terkandung dalam surat Al-Anbiya’ ayat 21-23 adalah supaya manusia berpikir menggunakan logika. Apa gunanya manusia diberi akal kalau tidak untuk berpikir.

Berpikir juga merupakan bentuk bersyukur manusia terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah berupa akal.

Pesan untuk berpikir terdapat pada ayat 22, yaitu manusia diperintah untuk berpikir kalau terdapat lebih dari satu tuhan di alam semesta, maka hancurlah alam ini.

Sedangkan pada ayat 23, manusia diperintah untuk berpikir kalau Allah tidak akan ditanyai apa yang dikerjakanya. Mengapa harus ditanya? Sedangkan semua yang dikerjakan Allah itu selalu baik. Sehingga, tidak perlu dipertanyakan lagi apa yang dikerjakan Allah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Surat Al-Anbiya’ ayat 21-23 menjelaskan tentang dalil aqli keesaan Allah yang diturunkan untuk membantah pendapat kaum musyrik bahwa ada lebih dari satu tuhan di alam semesta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Sheikh, Dr.Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq,Tafsir Ibnu Katsir, jilid.5.3

Quraish Shihab, Muhammad, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik Ulas Pelbagai Persoalan Umat

Maswan, Nur Faizin, Kajian Diskriptif  Tafsir Ibnu Katsir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                             



[1] Al-Sheikh, Dr.Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq,Tafsir Ibnu Katsir,jilid.5.3, hal.

[2] Ibid, hal.443.

[3]Quraish Shihab, Muhammad, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik Ulas Pelbagai Persoalan Umat, hal.48.

 

[4] Ibid, hal.

[5] Maswan, Nur Faizin, Kajian Diskriptif  Tafsir Ibnu Katsir, hal. 26-27