1. Latar Belakang

Akar masalah perbuatan manusia adalah keyakinan bahwa tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk juga manusia di dalamnya. Tuhan bersifat maha kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak.

Dari pernyataan di atas, timbul pertanyaan sampai di manakah manusia sebagai ciptaan tuhan bergantung kepada kekuasaan tuhan dalam menentukan perjalanan hidupnya?

2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana pendapat aliran mutazilah dan asyariah tentang konsep perbuatan manusia?

b. Adakah dalil yang menguatkan pendapat aliran mutazilah dan asyariah tentang konsep perbuatan manusia?

3. Tujuan

a. Mengetahui pendapat aliran mutazilah dan asyariah tentang konsep perbuatan manusia.

b. Mengetahui dalil yang menguatkan pendapat aliran mutazilah dan asyariah tentang konsep perbuatan manusia.

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.     Konsep Perbuatan Manusia Menurut Aliran Mutazilah dan Asyariah

1. Mutazilah

Menurut Aliran Mutazilah manusia melakukan dan menciptakan Perbuatannya sendiri, terlepas dari kehendak dan kekuasaan allah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut aliran ini, manusia benar-benar bebas untuk menentukan perbuatannya,  baik atau buruk. Allah hanya menyuruh dan menghendaki yang baik bukan yang buruk. Adapun yang di suruh Allah pastilah baik dan apa yang di larangnya tentulah buruk. Konsep ini memiliki konsekuensi logis dengan keadilan Allah yaitu apapun yang akan di terima manusia di akhirat merupakan balasan perbuatannya di dunia.Kebaikan akan di balas dengan kebaikan dan keburukan akan di balas dengan keburukan.

Hal ini dikarenakan manusia berbuat atas kemauan dan kemampuannya sendiri dan tidak di paksa.

Menurut Aliran Mutazilah Allah memiliki kewajiban sebagai berikut :

1. Berbuat baik dan terbaik

dalam istilah arabnya berbuat baik dan terbaik di sebut ash-shalah al-ashlah. Maksudnya adalah kewajiban Allah untuk berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia. Allah tidak mungkin jahat dan aniaya karena Akan menimbulkan kesan Allah penjahat dan penganiaya. Hal ini adalah sesuatu yang sangat tidak layak bagi Allah.

Menurut aliran ini, jika Allah berlaku jahat kepada seseorang dan berlaku baik pada orang lain berarti tidak adil. Dengan begitu, berarti Allah juga tidak maha sempurna. Bahkan menurut An-Nazzham, Allah tidak dapat berbuat jahat. Konsep ini berkaitan dengan kebijaksanaan, kemurahan, dan kepengasihan Allah. Bila Allah tidak bertindak seperti itu, berarti ia tidak bijaksana, pelit dan kejam.

2. Mengutus rasul

Mengutus Rasul kepada manusia merupakan kewajiban Allah karena alasan-alasan berikut ini:

2.1. Allah wajib berlaku baik kepada manusia dan hal itu tidak dapat terwujud kecuali dengan mengutus rasul kepada mereka.

2..2. Tujuan di ciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepadanya. Agar tujuan itu berhasil, tidak ada jalan lain selain mengutus Rasul.[1]

2. Asyariah

Mengenai perbuatan manusia, Asyariah berpendapat bahwa perbuatan manusia itu di ciptakan oleh Tuhan. pendapat ini bertolak belakang pada pendapat muktazilah. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan manusia dengan kehendak dan kekuasaan mutlakTuhan, Asyariah  menggunakan istilah Al-Kasb.

Al-Kasb adalah sesuatu yang timbul dari al muktasib. Yang di maksud Al-Kasb adalah berbarenganya kekuasaan manusia dengan perbuatan tuhan. Al-Asyari mengemukakan arti iktisab adalah sesuatu terjadi dengan perantara daya yang diciptakan. Dengan demikian,menjadi perolehan atau kasb bagi orang yang dengan dayanya perbuatan itu timbul.

Kasb atau perolehan mengandung arti keaktifan dan dengan demikian manusia bertanggung jawab atas perbuatanya. Tetapi karena kasb adalah ciptaan Tuhan, ini menghilangkan arti keaktifan itu sehingga manusia bersifat pasif dalam perbuatanya[2]

B.   Dalil yang Menguatkan Pendapat Dua Aliran Tentang Konsep Perbuatan Manusia

1. Mutazilah

a. Dalil Naqli

Dalam paham Mu’tazilah, kemampuan dan daya untuk mewujudkan perbuatan manusia adalah kemampuan dan daya manusia sendiri dan tak turut campur di dalamnya kemampuan dan daya Tuhan. Oleh karena itu, sebenarnya perbuatan manusia adalah perbuatan manusia itu sendiri bukan perbuatan Tuhan.

Ayat-ayatuntukmemperkuat argumentrasional kaumMu`tazilah:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ

“Yang membuat
segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.(Qs. As-sajadah 32:7).”

Ayat ini kata Abd al-jabar, mengandung dua arti. Yang pertama adalah ahsana,berarti “berbuat baik”. Dengan demikian semua perbuatan Tuhan merupakan kebajikan kepada manusia, dan ini tidakmungkin, karena di antara perbuatan-perbuatan Tuhan ada yang bukan merupakan kebajikan, seperti siksa yang di berikan Tuhan kepada manusia. Oleh karena itu yang di maksud ahsan di sini ialah arti kedua yaitu baik. Semua perbuatanTuhan adalah baik. Dengan demikian, perbuatan manusia bukanlah perbuatan Tuhan, karena di antara perbuatan-perbuatan manusia terdapat perbuatan-perbuatan jahat.

Ada juga ayat-ayat yang mengatakan bahwa manusia akan mendapatkan balasan atas perbuatannya seperti dalam ayat berikut :


فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.”(Qs. As-sajadah 32:17)

Sekiranya manusia adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia, maka pemberian balasan dari Tuhan atas perbuatan manusia,  seperti  yang di sebut dalam ayatini, tidak ada artinya. Agar ayat ini tidak mengandung dusta, demikian  Abd al-jabbar, perbuatan manusia haruslah betul-betul perbuatan manusia.

Seterusnya di bawahkan pula ayat :

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ
"Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir" (Qs. Al-kahfi 18:29)

Ayat ini member kebebasan manusia untuk percaya atau tidak percaya. Sekiranya perbuatan manusia bukanlah perbuatan manusia, ayat ini tidak ada artinya.[3]

b. Dalil Aqli

Pendapat diberikan oleh ‘Abd Al – Jabbar bahwa Perbuatan manusia bukanlah diciptakan Tuhan pada diri manusia, tetapi manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatan. Perbuatan ialah apa yang dihasilkan dengan daya yang bersifat baharu. Manusia adalah makhluk yang dapat memilih.

Keterangan- keterangan yang diberikan ‘Abd Al- Jabbar didalam al- Majmu’’ Tuhan membuat manusia sanggup mewujudkan perbuatannya “ ialah bahwa Tuhan menciptakan daya didalam diri manusia dan pada diri inilah bergantung wujud perbuatan itu, dan bukanlah yang dimaksud bahwa Tuhan membuat perbuatan yang telah dibuat manusia. Tidaklah mungkin bahwa Tuhan dapat mewujudkan perbuatan yang diwujudkan manusia. Dengan ini ‘Abd Al- Jabbar menentang paham bahwa dua daya dapat memberi efek kepada perbuatan yang satu lagi sama.Kaum Mu’tazilah pada umumnya berpendapat bahwa untuk tiap perbuatan hanya satu daya yang dapat mempunyai efek.

   Dengan demikian menjadi jelas bahwa bagi Mu’tazilah, daya manusialah dan bukan daya Tuhan yang mewujudkan perbuatan manusia. Daya Tuhan tidak mempunyai bagian  dalam perbuatan perbuatan- perbuatan manusia. Perbitan ini diwujudkan semata –mata oleh daya yang diciptakan Tuhan didalam diri manusia.

   Jadi dalam paham Mu’tazilah, kemauan dan daya untuk mewujudkan perbuatan manusia adalah kemauan dan daya manusia sendiri dan tak turut campur dalamnya kemauan dan daya Tuhan. Oleh karena itu perbuatan manusia adalah sebenarnya perbautan manusia dan bukan perbuatan Tuhan. Sebagai akan dilihat nantinya kaum Asy’ariah mempunyai paham berlainan.[4]

2. Asyariah

a. Dalil Naqli

Menurut al-Asy’ari, semua perbuatan (aksab) manusia adalah makhluk atau diciptakan oleh Allah. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah :

 

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Artinya:”tuhan menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”. (QS. As- Shaffat)

 

Wama ta’maluun, disni diartikan oleh al-asyari “apa yang kamu perbuat” dan bukan “apa yang kamu buat”. Dengan demikian, ayat ini menjelaskan Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatanmu. Jadi, dalam faham al-asyari perbuatan-perbuatan tuhan dan tidak ada pembuat bagi kasb kecuali Allah. Dengan perkataan lain yang mewujudkan kasb atau yang mewujudkan perbuatan manusia, dalam pendapat al-asy’ari, sebenarnya adalah tuhan sendiri.[5]

b. Dalil Aqli

Pada hakikatnya perbuatan tidak terjadi kecuali diciptakan oleh yang menciptakanya. Mesti ada yang menciptakan kekafiran dan keimanan secara hakiki. Allah lah yang menjadikan kekafiran itu buruk, dan dia yang menjadikan keimanan itu baik. Tuhan lah yang menciptakan perbuatan manusia, baik atau buruk. Seandainya bukan tuhan yang menciptakannya, tentu orang kafir dapat menjadikan kekafiran dipandang baik, sesuai dengan keinginan mereka.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

            Dari pembahasan diatas, kami menyimpulkan bahwa konsep perbuatan manusia  menurut Aliran Mutazilah dan Aliran Asyariah itu memiliki perbedaan, yaitu :

1. Aliran Mutazilah berpendapat bahwa perbuatan manusia itu murni berasal dari manusia tanpa adanya campur tangan dari Tuhan.

2. Aliran Asyariah berpendapat bahwa terdapat campur tangan Tuhan dalam segala perbuatanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ardy Widayani, Novan, Ilmu kalam,bumiayu, 22 januari 2013

Dr.M.AminNurdin,MAdanDr.afifiFuziAbbas,MA.Sejarahpemikiranislam                              (Jakarta :amzah ,2012)

Nasution, Harun, Teologi Islam, (Jakarta : Universitas Indonesia, 1986)

Dr.M.AminNurdin,MAdanDr.afifiFuziAbbas,MA.Sejarahpemikiranislam   

 (Jakarta :amzah ,2012)

Nukman, Abbas. 2002. Al-Asy’ari Misteri perbuatan manusia dan Takdir Tuhan. Penerbit erlangga

 



[1] Ardy Widayani, Novan, Ilmu kalam,bumiayu, 22 januari 2013, hlm.125

 

[2]Dr.M.AminNurdin,MAdanDr.afifiFuziAbbas,MA.Sejarahpemikiranislam (Jakarta :amzah ,2012)hlm.108

[3] Nasution, Harun, Teologi Islam, (Jakarta : Universitas Indonesia, 1986), hlm.

[4] Ibid, hlm.103-105.

[5] Dr.M.AminNurdin,MAdanDr.afifiFuziAbbas,MA.Sejarahpemikiranislam (Jakarta :amzah ,2012)hlm.108

[6] Nukman, Abbas. 2002. Al-Asy’ari Misteri perbuatan manusia dan Takdir Tuhan. Penerbit erlangga. Hlm.