Akhirnya penulis sampaikan terima kasih Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang masih memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah dengan judul “TAFSIR MAJMA’ AL BAYAN LI ULUMIL QUR’AN” dengan tepat waktu.

Tidak lupa shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan inspirator terbesar dalam segala keteladanannya. Tidak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. Budihardjo, M.Ag., selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Ahkam yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam pembuatan makalah ini.

Atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca yang budiman pada umumnya. Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

 

Senin, 27 Mei 2021

 

                                                                                         Penulis

 

 

 

 


 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

a.      Latar Belakang

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an memiliki ayat-ayat yang menggunakan tata bahasa yang indah. Selain itu, Al-Qur’an juga berisi banyak sekali pesan-pesan terhadap semua manusia hingga akhir zaman.

Untuk menggali pesan-pesan yang terkandung dalam Al-Quran, manusia harus menafsirkan ayat-ayat tersebut. Seiring berkembangnya zaman, banyak sekali mufassir yang mengarang kitab tafsirnya sendiri dengan corak dan mtode yang berbeda-beda. Salah satu kitab tersebut adalah TAFSIR MAJMA’ AL BAYAN LI ULUMIL QUR’AN.

b.      Rumusan Masalah

1.      Bagaimana kisah hidup pengarang kitab?

2.      Bagaimana sistematika penulisan kitab tersebut?

3.      Apa metodologi dan corak yang digunakan oleh pengarang kitab?

c.       Tujuan

1.      Mengetahui biografi pengarang kitab.

2.      Mengetahui bagaimana sistematika kepenulisan yang ada dalam kitab tersebut.

3.      Mengetahui corak dan metodologi yang digunakan dalam mengarang kitab tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Biografi

1. Riwayat Hidup Sosial dan Akademik al-Ṭabarsī

Pengarang tafsir Majma` al-Bayān ini adalah Abū Alī ibn al-Faḍl ibn al-Ḥasan ibn al-Faḍl al-Ṭabarsī al-Masyhādi. Kata al-Ṭabarsī dikaitkan dengan daerah tempat tinggal al-Ṭabarsī yaitu Ṭabristān.[1]Ṭabristān atau Ṭabrās merupakan sebuah kota yang berhadapan dengan kota Qum di Iran.[2]Selain itu, al-Ṭabarsī juga dikaitkan dengan nama suatu jenis senjata menyerupai kampak yang digunakan oleh penduduk daerah pegunungan untuk berperang yang disebut denganṬabar.[3] Dari segi keturunan, kata al-Ṭabarsī dikaitkan dengan Ṭabrasya itu nama seorang keturunan dari golongan ulama Imāmiyah.[4] Kata al-Masyhādi dikaitkan dengan daerah Masyhād al-Raḍāwiya itu daerah tempat beliau dimakamkan.[5]

Al-Ṭabarsī dilahirkan tahun 468 H, lalu ia menetap di Masyhād al-Raḍāwi hingga tahun 523 H. Kemudian ia pindah ke daerah Sabador dan menetap di sana wafat tahun 552 H. Ada juga yang menyatakan bahwa ia meninggal tahun 548 H pada malam Idul Aḍḥa.[6] Al-Khālidī menyatakan bahwa al-Ṭabarsī wafat pada malam Idul Aḍḥa tahun 538 H.[7] Kemudian kuburannya dipindahkan ke Masyhād al-Raḍāwi, lalu dikuburkan hingga sekarang di sebuah pemakaman yang terkenal yaitu Qatlakan.[8]

al-Ṭabarsī berasal dari keluarga berilmu. Beliau dan putranya yang bernama Riḍā al-Dīn Abū Naṣr Ḥasan ibn al-Faḍl telah berhasil menyusun sebuah karya tulis yang berjudulMakārim al-Akhlāq. Cucu al-ṬabarsībernamaAbū al-Faḍl „Alī ibn al-Ḥasan. Seluruhketurunan dan kerabat al-Ṭabarsīmerupakan orang-orang yang berwawasanluas. [9]

Di antara guru al-Ṭabarsīadal ah al-SyaikhAbī „Alī ibn Syaikh al-Ṭūsī, SyaikhAbū al-WafāAbd al-Jabbār ibn „Alī al-Muqrī al-Rāzī, Syaikh al-„Ajlī al-Ḥasan ibn al-Ḥusain ibn al-Ḥasan ibn Bābūyah al-Qumī al-Rāzi, Muḥammad bin al-Ḥusain al-Qaṣābī al-Jurjānī, Abī al-Fatḥ „Abdullāh bin Abd al-Karīm bin Hawāzan al-Qusyairī, Abī al-Ḥasan „Ubaidillāh bin Muḥammad ibn al-Ḥusain al-Bayḥāqī, Sayyid Abū al-ḤamdMahdī bin Nazār al-Ḥusainī al-Qāyinī, al-Ḥākim al-Haskānī.[10] Di antara murid al-ṬabarsīadalahputranyaRiḍā al-DīnAbūNaṣrḤāsan ibn al-Faḍl, Rasyīd al-DīnAbūJa„fārMuḥammad ibn Alī Ibn SyahraSyaūb, SyaikhMuntajāb al-Dīn, Sayyid Faḍlullāh al-Rāwindīpenulis kitab al-Kharāij al-Jarāiḥ.[11]

Al-Ṭabarsīadalah salah seorangmufasirSyī`ahImāmiyahIṡnā „AsyariyyahatauSyī`ahJa„fāriyyah, pada abad ke-6 H. Diaadalahmufasirpenerusdarigurunyayaitu al-Ṭūsī. Bahkania juga sangatterpengaruhdenganriwayat-riwayatdarigurunya, walaupunmasihterdapatperbedaanantarakeduanya.[12] Al-Ṭabarsī juga merupakanseorangSyi`ah yang mengembanakidahSyi`ahdengansebagianpahamMu`tazilah. Sehinggatidakanehbilaia juga membelamazhabnya dan memahamiKitābullāhsesuaidenganakidahnya.[13]Dia juga tidakterlihatfanatik (ta„aṣub) yang berlebihandalammembelaakidahnya pada penafsiranayat-ayat al-Qur`an karenapahamSyi`ahmoderat yang beliaumiliki.[14]

2. Keilmuan dan Karya-Karya al-Ṭabarsī

Al-Ṭabarsīmenguasaiberbagaimacamilmupengetahuan, karemabeliauseorang ulama terpandangdimasanya, beliunmenjadirujukan ulama lain pada saatitu, terkenaldenganbudipekerti yang luhur. Bukancumaahlidibidang tafsir, tetapiilmu-imu yang lain sepertiilmufiqih dan hadis juga dikuasainya. Sehinggabeliaudikenaldengan al-Fādil, al-„Alim, al-Mufassir, al-Faqīh, al-Muhaddiṡ, al-Jalīl, al-Ṡiqqah, al-Kāmil, dan al-Nabīl. Kemudiandijelaskandalam al-Tafsir al-Mufassirūn, ṢāhibuMajālis al-Mu‟minīn yang menjelaskanbahwa al-Ṭabasīdisebutdengansebagai „Umdat al-Mufassirīn (tempatsandaran para mufassir) beliauadalahgolongan ulama yang condong pada ilmu tafsir. [15]

Keberhasilannyadalammemahamisemuailmupengetahuanterlihatketikabeliaumenuangkandalambentukkaryatulis. Karya-karyatulis al-Ṭabarsīadalah: Majma` al-BayānfîTafsīr al-Qur`ān sebanyak 10 jilid, al-WāfīfīTafsīr al-Qur`ān, al-Wasīṭsebanyak 4 jilid, al-Wajīzsebanyak 2 jilid, A„lām al-Hudā(membahastentangkeutamaan para Imam) kitab inisebanyak 2 jilid, Misykāh al-Anwārmembahastentang khabar-khabar, RisālahHaqāiq al-UmūrmembahastentangUshūl al-Dīn, ilmuFarāiḍdenganbahasaPersi, KitābSyawāhid al-Tanzīl li Qawā‟id al-Tafḍīl, Kitāb al-Jawāhirmembahastentangilmunaḥwu, Naṣr al-Alīmerupakankumpulanrisalah dan perkataanAmīr al-MukminīnAlī bin AbīṬālib.[16]

 

B.     Sistematika Kepenulisan

Tekniksistematikapenulisan al-Ṭabarsi,sebelumbeliaumenafsiriayatdemi ayat, surat demi surat, terlebih dahulu di dalam muqaddimahtafsirini, al-Ṭabarsimemberikanpendahuluandenganmenyebutkan tujuh perkara yang berkaitandenganilmu-ilmu al-Qur’an. Tujuhperkaratersebutialah:

1) Menjelaskanjumlahayat al-Qur’an danmanfaatmengetahuinya.

2) Menjelaskanpenyebutannama-namapembaca al-Qur’an (qurra’) danperawi yang terkenal di beberapanegeri.

3) Menjelaskanpengertiantafsir, ta’wildanmakna, sertapenjelasanbeberapaistilah yang sering digunakan di dalam tafsir ini. Jugapenjelasantentangbagaimanamemahamiayat-ayatdanhadis-hadisyang menunjukkanlaranganmenafsirkan al-Qur’an denganra’yidan yang membolehkan.

4) Menjelaskannama-nama al-Qur’an danmaknanya.

5) Menjelaskan beberapa hal yang berkaitandenganilmu-ilmualQur’an, dijelaskansecarapanjanglebarpadatempat-tempattertentudanjugadisebutkankitab-kitab yang berkaitan dengan tematersebut, sepertiI’jaz al-Qur’an.

6) Menjealaskan hadis-hadis yang menunjukkantentangkeutamaanalQur’andanahlinya (orang yang membaca, memahamidanmengamalkannya).

7) Menjelaskananjuranmembaca al-Qur’an denganmemperindahbacaan (Taḥsīn al-Lafẓ) dan suara yang indah.

Baru kemudian dengan menafsirkan al-Qur’an, di mulaidariTa’awuẓ, Basmalah, Surah al-Fatiḥahdanseterusnya.DalamkitabtafsirMajma’ al-Bayan, al-Ṭabarsimenempuhlangkah-langkahsebagai berikut:

Mengawalitiap-tiapsuratdalam al-Qur’an denganmenyebutsuratidentitas setiap surat apakah makiyyah atau madaniyah, kemudianmenjelaskanperbedaanpendapatulamamasalahbilanganayat-ayatal-Qur’an dalamsuratitu, menjelaskanjugaperbedaanulamamasalahqiraat. Dan menjelsakananalisisbahasaberkaitandenganmakna lafadz ataukalimat, menjelaskanI’rabdan

kemusykilannya. Kemudian menjelaskan illatdanhujjahmasing-masing, menjelaskanasbab al-Nuzul, I’rab, ma’ani, hukum, kisah-kisahdankorelasiruntunayat.[17]

 

C.     Metode dan Corak

1. Sumber penafsiran

Dilihat dari sumber penafsirannya, Tafsir Majma’ al-Baya>n termasuk jenis kategori tafsir bi al-ra’yi, dimana dalam menafsirkan ayat, beliau menggunakan hasil pemahamannya. Sedangkan adanya ayat ayat yang berkaitan, hadits-hadits yang ada dan beberapa pendapat difungsikan sebagai hujjah atau penguat atas pendapat yang dikeluarkan dalam menafsirkan.

Sebagaimana diterangkan dalam Al-Tafsir wa al-Mufassirun, dalam tafsir Majma’al-Bayan juga terdapat banyak hadits maudhu’ juga cerita isra’iliyyat.

2. Cara penjelasan

Dilihat dari cara penjelasannya, kitab tafsir ini tergolong Bayani yaitu mengemukakan makna yang dimaksud dalam ayat-ayat al-quran.

Dalam penjelasannya, Al-Tabarsi memakai metode dengan mengawali tiap-tiap surat dalam al-Qura’an dengan menyebut surat makki atau madani, kemudian menjelaskan perbedaan ulama masalah bilangan ayat-ayat al-Qur’an dalam surat itu, menjelaskan juga perbedaan ulama masalah qira’at, menjelaskan illat dan hujjah masing-masing, menjelaskan Asba>b al-nuzul, I’rab, ma’ani, hukum, kisah-kisah dan korelasi runtun ayat, sehingga al-Dhahabi menyimpulkan bahwa kitab tafsir Majma’ al-Baya>n adalah perpaduan madzhab Syi’ah dan Mu’tazilah.[18]

Metode yang ditempuh oleh al-Tabarsi mencakup 7 langkah, berikut poin-poinnya secara ringkas:[19]

a. Memulai penafsiran dengan menyebutkan turunnya dan ayat-ayatnya, kemudian qira’ah-qira’ah-nya, bahasa, I’rab dan munasabah antar ayat.

b. Menyebutkan asbab al-nuzul, makna-makna, dan takwil-takwilnya.

c. Menyebutkan kisah-kisah mutasyabih dan musykil-musykilnya.

d. Dalam muqaddimah tafsirnya, ia juga memulai tafsirnya dengan memberi pengantar dengan sebagian ilmu al-Quran. hal yang dipaparkan mencakup 7 hal yakni jumlah ayat al Quran, para Qari’ yang masyhur, makna tafsir, takwil dan hukum tafsir bi al-Ra’yi, nama-nama al-Qur’an, kemukjizatan al-Qur’an, penambahan dan pengurangannya, khabar-khabar berkenaan dengan keutamaan al Quran dan ahlinya, anjuran memperbaiki pengucapan dan

memperindah membacanya. Kemudian memulai tafsirnya dengan membicarakan isti’adhah dan basmalah.

e. Memaksimalkan semua segi yang dibicarakannya.

f. Menyebutkan hadis-hadis, namun tidak terlepas dari hadis-hadis maudhu’, khususnya dalam rangka membela madzhabnya dan akidahnya, di samping kesalahannya dalam meriwayatkan hadis-hadis tentang keutamaan surat-surat yang diriwayatkan oleh selainnya dari Ubai dan yang lain, yang menurut kesepakatan ulama merupakan hadis-hadis maudhu’.

g. Meriwayatkan banyak isra’iliyyat yang dinisbatkan kepada pengucapnya tanpa memberi komentar. Kecuali yang berkenaan dengan akidah, maka ia mengkritik habis-habisan dan menunjukkan kedustaannya.

Al-Dhahabi menggambarkan bahwa pada Muqaddimah Majma’ al-Bayan, al-Tabarsi terlebih dahulu menjelaskan ilmu-ilmu al-Qur’an yang dibagi menjadi tujuh bab :

a. Menjelaskan bilangan ayat dalam al-Qur’an dan Urgensi mempelajarinya

b. Menjelaskan Masalah Qira’at dan ulama-ulama Qurra’

c. Menjelaskan masalah Tafsir, ta’wil dan lain-lain.

d. Menjelaskan al-Qur’an dan arti-artinya.

e. Menjelaskan Ulum al-Qur’an seperti I’jaz, ayat-ayat al-Qur’an bisa ditambah atau dikurangi.

f. Menjelaskan akhbar-akhbar (Hadits-hadits) yang ada kaitannya dengan keutamaan al-Qur’an.

g. Menjelaskan anjuran-anjuran bagi pembaca al-Qur’an.

Kemudian al-Tabarsi melanjutkan dengan menafsirkan al-Qur’an, memulai dari ta’awudh, basmalah, surat al-Fatihah dan seterusnya.[20]

3. Keluasan penjelasan Dilihat dari segi keluasan penjelasannya, tafsir Majma’ al-Bayan dikatogerikan tafsir tafsili, Karena Al-Tabarsi menafsirkan al-Qur’an lafaz demi lafazsesuai dengan tertib ayat dan surat dalam mushaf al-Qur’an mulai dari awal surat al-Fatihah sampai

akhir surat al-Nas.

4. Sasaran dan tertib ayat

Dilihat dari sasaran dan tertib ayatnya, tafsir Majma’ al-Bayan dikatogerikan tafsir tahlili, Karena Al-T{abarsi menafsirkan al-Qur’an ayat demi ayat sesuai dengan tertib ayat dan surat

dalam mushaf al-Qur’an mulai dari awal surat al-Fatikhah sampai akhir surat al-Nas.

5. Corak penafsiran

Sedangkan dilihat dari laun/coraknya, Tafsir Majma’ al-Bayan ini termasuk laun lughawi. Bahkan dalam taqdimnya, tafsir ini digolongkan kitab untuk rujukan I’rab al-Qur’an, hal ini

disebabkan memuatnya semua aspek kebahasaan untuk membedah ma’na al-Qur’an khususnya bahasan I’rab ayat-ayat al-Qur’an.[21]

Tafsir ini meliputi pembahasan-pembahasan tentang:

bacaan (qira’ah), tanda baca (i’rab), glossary, penjelasan kata-kata sulit, penjelasan semantik (ma’ani danbayan), sebab-sebab turun ayat-ayat al-Quran, uraian kisah-kisah dan lainnya.

Metode ini dan cara pengklasifikasian yang ada akan memberikan kemudahan bagi pengguna untuk menyelesaikan permasalahannya yang berada dalam salah satu bab-bab dan pasal-pasal tertentu dan akan menemukan hal-hal yang dicarinya dengan cepat, tidak seperti kitab-kitab tafsir yang lain yang akan hilang di sela-sela jumlah halaman yang sangat banyak.[22]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam menafsirkan Al Quran, Al Thabarsi dalam kitabnya yaitu Tafsir Al-Majma’ Al Bayan Li ulumil Quran menggunakan metode tafsir bi ra’yi. Al Thabarsi menggunakan pendapat-pendapatnya dalam menafsirkan kemudian didukung oleh hadis-hadis nabi atau ayat-ayat lain yang bersangkutan. Kitab karangan Al Thabarsi memiliki corak tafsir lughawi atau tafsir yang banyak membahas tentang kebahasaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ali al-Fdl ibn al-Hanan al-Tamaris, Majma` al-Bayan fi Tafsir al-Qur`an muqaddimahJuz 1, (Beirut: Dar al-Murtaza, 2006)

Ihsan al-Amin, al-Amin, al-Tafsir bi al-Ma`surwaTatwiruhIndana al-Syi`ah al-Imamiyah, (Beirut : Dar al-Hadi, 2000)

Ibrahim Mustafa dkk, al-Mu`jam al-Wasit, (Turki: Al-Maktabah al-Islamiyyah, 1960), Juz II

Salim al-Safar al-Baghdadi, NaqdManhaj al-Tafsir wa al-Mufassirin al-Muqaran, (Beirut: Dar al-Had, 2000)

Muhammad Husain al-Zahabi, al-Tafsir wa al-MusafassirunJuz II, (Jessie: MaktabahWahbah, 2003)

Ṣalāh Abd al-Fattāh al-Khālidī, Ta`rīf al-Dārisīn bi Manāhij al-Mufassirīn, (Damaskus: Dār al-Qalam, 2002), cet. Ke-3

AlīAḥmad al-Sālūs, Ma`a al-Syī`ah al-IṡnāAsyariyah fi al-Ushūlwa al-Furū` (DirāsahMuqāranah fi al-Aqāidwa al-Tafsīr), terj: Ensiklopedi Sunnah-Syi`ah, StudiPerbandinganAqidah dan Tafsir 1, ( Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1997)

YunusHasanAbidu, Tafsir Al-Qur’an, SejarahTafsirdanMetode Para Mufassir.

 

 



[1]Abu Ali al-Fdl ibn al-Hanan al-Tamaris, Majma` al-Bayan fi Tafsir al-Qur`an muqaddimahJuz 1, (Beirut: Dar al-Murtaza, 2006) h. 5

[2]Ihsan al-Amin, al-Amin, al-Tafsir bi al-Ma`surwaTatwiruhIndana al-Syi`ah al-Imamiyah, (Beirut : Dar al-Hadi, 2000), h. 421

[3]Ibrahim Mustafa dkk, al-Mu`jam al-Wasit, (Turki: Al-Maktabah al-Islamiyyah, 1960), Juz II, h. 549

[4] Salim al-Safar al-Baghdadi, NaqdManhaj al-Tafsir wa al-Mufassirin al-Muqaran, (Beirut: Dar al-Had, 2000), h 386

[5]Muhammad Husain al-Zahabi, al-Tafsir wa al-MusafassirunJuz II, (Jessie: MaktabahWahbah, 2003), h. 74

[6]Iḥsān al-Amīn, al-TafsīrbilMa`ṡūrwaTaṭwīruhInda al-Syī`ah al-Imāmiyah, h. 421

[7]Ṣalāh Abd al-Fattāh al-Khālidī, Ta`rīf al-Dārisīn bi Manāhij al-Mufassirīn, (Damaskus: Dār al-Qalam, 2002), cet. Ke-3, h. 519

[8]IḥsānAmīn, al-TafsīrbilMa`ṡūrwaTaṭwīruhInda al-Syī`ah al-Imāmiyah, h.422

[9]MuḥammadḤusain al-Żahabī, al-Tafsīrwa al-MufassirūnJuz II, h.74

[10]Sālim al-Ṣafār al-Baghdādī, NaqdManḥāj al-Tafsīrwa al-Mufassirīn al-Muqāran, h.386

[11]MuḥammadḤusain al-Żahabī, al-Tafsīrwa al-MufassirūnJuz II, (Mesir: MaktabahWaḥbah, 2003), h. 74

[12]AlīAḥmad al-Sālūs, Ma`a al-Syī`ah al-IṡnāAsyariyah fi al-Ushūlwa al-Furū` (DirāsahMuqāranah fi al-Aqāidwa al-Tafsīr), terj: Ensiklopedi Sunnah-Syi`ah, StudiPerbandinganAqidah dan Tafsir 1, ( Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1997), h. 550

 

[13]Yunus Hasan Abidu, Tafsir al-Qur`an, Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufasir, (Jakarta: PT Gaya Media Pratama, 2007), h. 185

[14]MuḥammadḤusain al-Żahabī, al-Tafsīrwa al-MufassirūnJuz II h. 106

[15]MuḥammadḤusain al-Żahabī, al-Tafsīrwa al-MufassirūnJuz II, h. 74

[16]AbūAlī al-Faḍl ibn al-Ḥasan al-Ṭabarsī, Majma` al-BayānfīTafsīr al-Qur`ān muqaddimahJuz I, h. 6

[17]YunusHasanAbidu, Tafsir Al-Qur’an, SejarahTafsirdanMetode Para Mufassir. Hlm. 70-71

[18] Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, Juz II, hlm. 77

[19] Dr. Yunus Hasan Abidu, Tafsir al Qur’an: Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufasir, 184-187.

[20] Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, Juz II, hlm. 78

[21]Ibid

[22] Ibid, Juz II, hlm. 77